My Soul

Minggu, Agustus 08, 2010

Sejak kecil gua punya rasa ingin tahu yang besar. Di benak gua selalu ada pertanyaan “Mengapa begini? Mengapa begitu?” Seringkali saudara-saudara dan orang-orang yang bertamu ke rumah gua kepusingan menjawab pertanyaan-pertanyaan gua yang menghujani mereka. Gua selalu menodong mereka untuk bercerita, namun selalu bertanya dan membantah jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiran. Tante gua sempat berucap “Yeee.. Emang jalan ceritanya udah gitu dari sononya, diprotes…” Hehehe… Bagaimana dengan kedua orangtua gua? Mereka punya cara sendiri menyiasatinya.

Bapak gua mengajarkan gua membaca pada usia yang belum semestinya. Usia 4 tahun gua udah bisa baca tulis dengan lancar. Gua ingat buku pertama gua (yang gua baca sendiri) adalah sejarah nabi Musa A.S. Setelah itu Ibu gua mulai rutin membelikan gua majalah Bobo setiap minggunya. Memang, cara ini tidak menghentikan pertanyaan-pertanyaan gua namun paling tidak menghemat waktu mereka untuk bercerita dan mendongeng.

Berbarengan dengan masuk SD, gua juga didaftarkan ke pengajian dekat rumah. Pengajiannya model pengajian di sinetron “Entong” jadi disini bisa terjadi dialog interaktif antara ustadz dan santri. Suatu hari, tema yang dibawakan ustadz gua adalah tentang bersuci (wudhu dan mandi wajib). Ustadz gua berkata “Mandi wajib dilakukan karena beberapa hal. Antara lain keluarnya air mani. Kalian mungkin belum pernah mengalaminya.” Gua mulai bertanya “Apaan tuh Tad?” Ustadz gua dengan sabar menjawab “air mani itu keluarnya pelan-pelan tapi rasanya enak” Gua menimpali “Owh, gitu Tad…” Ustadz gua terlihat agak tenang, namun gak lama kemudian gua bertanya kembali “Kalo yang keluarnya cepet tapi rasanya sakit namanya air apaan Tad?” Ustadz gua memang betul-betul sabar atau mungkin sambil ngurut-ngurut dada, kembali menjawab “Eh, kalo itu namanya air madzi”. Hahahaha… Ustadz gua menjawab sekenanya sambil terlihat menyeka keringat di dahinya. Padahal kalo gua yang jadi ustadz bakal gua jawab “Oh yang keluarnya cepet trus rasanya sakit ya? Itu namanya air mancur!!!” Hehehe…

Suatu hari sepulang pengajian gua kedatangan seseorang yang belum gua kenal. Seorang laki-laki tua kurus keriput. Bapak gua memperkenalkannya sebagai ‘Mbah’. Gua gak tau apa hubungan dia dengan Mbah gua yang di kampung dan Mbah Maridjan yang di Gunung Merapi. Apakah dia adik, kakak, bapak, om, tante atau jangan-jangan dia adalah Mbah asli gua? Hahahaha… Gak lah… (Moga-moga Bapak gua gak baca ini, hehehe…).

Mbah mulai pedekate sama gua. Menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar seperti sekolah dimana, kelas berapa, cita-cita mau jadi apa, mau nikah umur berapa, udah ada calonnya atau belum. Pertanyaan simpel tapi bisa jadi senjata makan tuan. Jikalau gua sudah merasa akrab maka akan terjadi counter attack dimana gua akan berbalik menyerangnya bertubi-tubi dengan pertanyaan.

Ternyata hal tersebut tidak menakutkannya. Mbah ternyata orangnya senang bercerita. Ia adalah seorang pelaut. Pengalamannya banyak, jadi banyak yang bisa diceritakannya. Ia pernah mengelilingi dunia dengan kapal laut. Yang gua ingat dia semangat sekali jika bercerita tentang Hawaii.

Cerita-cerita Mbah memaksa otak gua untuk bekerja keras. Dari situ pertanyaan-pertanyaan timbul dengan sendirinya… Bagaimana ikan teri yang kecil dapat membalikkan kapal? Apa saja isi Palung Mariana yang berkedalaman 10.000 meter? Dimana letak Atlantis, pulau yang hilang? Mengapa Mbah senang ke Hawaii?... dan Kapan ya gua bisa menjawab semua ini???

Pertanyaan terakhir adalah pertanyaan terpenting dan menjadi alasan mengapa gua suka bepergian kesana kemari, berpetualang menjelajahi daratan dan lautan. Karena bagi gua, dunia adalah pertanyaan yang harus gua jawab.

Untuk Mbah dimanapun engkau berada, apakah masih hidup di Indonesia? Ataukah di Hawaii? Atau apakah Engkau sudah meninggal? Meninggal secara wajar? Ataukah dicabik-cabik hiu? Gua ingin mengucapkan terima kasih. Ternyata perjumpaan kita yang sebentar, berpengaruh besar bagi diri gua. You’re one of my inspirations. Jikalau suatu saat nanti gua sampai ke Hawaii, gua akan menuliskan namamu dengan ukuran font yang besar diatas pasir. Hmmm…. By the way, jenengmu sopo tho mbah???

Bicara soal nama, mungkin ada benarnya statement nama itu adalah doa orangtua. Orangtua gua memberi nama “Aditya” yang berarti “Matahari” dalam bahasa Jawa Kuno. Matahari bersinar dan memberi penghidupan bagi seluruh makhluk di bumi. Mungkin itu juga harapan orangtua gua, agar gua paling tidak dapat bersinar untuk keluarga dan orang-orang di sekitar gua. Bener tho Pak, Bu… Kalo itu adalah harapan kalian? Hiks… Hiks… Terharu gua…. Mmmm… Atauuuu… Jangan-jangan nama gua didapet gak sengaja lagi? Abis baca-baca koran? Awas aja kalo ampe ketauan gitu. Rrrrr… Hahahahaha… Apapun itu, bagi gua gak ada permukaan bumi yang gak pernah tersentuh matahari. Begitupula gua akan mencoba seperti matahari menginjakkan kaki gua di seluruh permukaan bumi*.

*berlebihan mode: ON


Legenda Tugu Monas

Senin, Maret 29, 2010



Alkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang kini bernama Indonesia, hiduplah dua orang raksasa yg bernama Raksasa Maho dan Raksasa Liyus. Sebenarnya kedua Raksasa ini berasal dari satu perguruan yaitu Perguruan ’Duren Mbakule’ yang dipimpin oleh Raksasa Pertapa Ki Tuhu. Namun, permasalahan kecil menjadikan mereka bermusuhan. Penyebabnya sepele, ketika terjadi pertarungan antar keduanya dalam sebuah kompetisi yg diadakan Ki Tuhu, Raksasa Maho menjitak kepala Raksasa Liyus terlalu keras sehingga menyebabkan kepalanya menjadi pitak....



Pada suatu hari ketika Raksasa Maho sedang menyantap makanan kesukaannya yaitu molen nanas, ia tersedak.
"Busyet! Keras amat ini nanas! Syaul, ampe nyangkut di kerongkongan" batin Raksasa Maho.
Raksasa Maho kemudian mengeluarkan nanas tersebut dari mulutnya, dan dengan kesaktian dan kreatifitasnya ia mengubah nanas tersebut menjadi sebuah karya seni.
"Daripada mubadzir, gak jadi dimakan."

"Bagus juga ya karyaku... Aku namakan ini Monas, Molen Nanas!!!" Raksasa Maho berkata dengan lantang.
Tak sampai lama, kabar kemunculan Monas terdengar sampai seantero negeri. Keindahan dan kebesarannya sampai-sampai membuat penduduk negeri menyembah-nyembahnya seperti mereka menyembah berhala. Saat itu memang masih jaman jahiliyah.

Berita karya seni Raksasa Maho itupun terdengar oleh Raksasa Liyus. "Syaul Maho! Makin terkenal aja dia. Akan kuhancurkan karyanya demi membalaskan dendamku karena ia telah membuat kepalaku menjadi pitak seperti ini! Biar dia tahu itulah yg akan terjadi bila berurusan dengan keluarga Setiadi,... maksudku Liusetiadi..."

Raksasa Liyus mengamuk dan melampiaskan dendamnya pada Monas. Liyus menendang-nendang Monas dengan sekuat tenaganya, namun Monas tetap seperti sediakala, tidak bergerak apalagi rusak.





”Kuat sekali bangunan ini! Aku bahkan tak sanggup membuat kerusakan kecil padanya” Liyus mulai frustasi.
Tapi bukan Liyus namanya kalau ia kehabisan akal. Ia kemudian melakukan tindakan yang tidak diduga oleh manusia pada jaman itu. Ia mengencingi tugu Monas!

Sore harinya, Maho seperti biasa mengunjungi hasil karyanya.
”Monaaaas.... Papa datang... Mmmmmuaaaahhh...” Maho menyapa dan mencium Monas.
”Kok bau pesing ya? Kamu ngompol ya Monas.... ??? Tapi....” Maho mulai curiga dan mengendus Monas sekali lagi.
”Kuraaaang Ajaaaaaarrrrrrr!!!! Aku kenal bau ini!!! Smells like teen spirit!!!”

Malam itu juga Maho mencari keberadaan Liyus. Ia sangat yakin kalau bau pesing itu berasal dari air ketuban, eh maksudnya air kencing Liyus. Berjam-jam ia mencari dan barulah pada keesokan paginya ia menemukan Liyus di sebuah padang rumput yang luas.
”Liyussss!!!! Apa yg kau lakukan pada Monas-ku???” Maho bertanya pada Liyus.
”Itulah akibatnya kalau kau membuat masalah denganku!” Liyus menggertak balik.
”Oh jadi hanya karena pitak itu kau dendam kepadaku???”
”Ya betul! Gara-gara itu kegantenganku berkurang. Para bidadari sering mengolok-olokku.”
Pertarungan tak dapat terhindari. Saling jual beli pukulan pun terjadi.

Pertarungan berlangsung lama dan cenderung imbang, sampai pada akhirnya Raksasa Maho mengeluarkan ajian pamungkasnya yaitu ’Ajian Gunung Kemukus’. Dengan ajian ini Maho dapat mengubah siapa saja menjadi hewan dan ketika itu dikeluarkan Liyus pun berubah menjadi anak kambing.

”Kau, telah berbuat curang Ho!” Liyus tidak terima.
“Siapa yang curang??? Peraturan belum dibuat kawan!“ Maho berkelit.
”Kembalikan aku ke bentuk semula!”
”Apa jaminannya jika kau kukembalikan seperti sediakala?”
”Anggaplah aku berhutang kepadamu, Ho!” Liyus memohon.
”Hutang terus! Berapa banyak yang belum kau bayarkan kawan? Aku takkan memberimu lagi! Lagipula dendammu tidak akan ada habisnya. Aku khawatir kau akan tetap mengusikku jika aku mencabut kutukanku.” Maho kukuh pada pendiriannya.
”Baiklah Ho! Tapi tidak adakah binatang yang lebih baik dari anak kambing?” Liyus protes kembali.
”Ini anak dikutuk masih nawar aja. Lo kata belanjaan??? Masih mending gua ubah jadi anak kambing, daripada jadi anak haram... Okelah kalo begitu aku akan mengubahmu menjadi kuda.” Maho mengabulkan permintaan Liyus.

Tak lama kemudian datanglah Ki Tuhu. ”Ho, darimana kau dapatkan kuda ini?” tanyanya.
”Ini aku guru...” jawab Liyus.
”Wow! Kudanya bisa berbicara!!!” Ki Tuhu terkagum-kagum.
”Dasar guru bodoh! Ho, kamu saja yang ngomong!” Liyus tambah kesal.
”Guru aku telah mengubah Liyus menjadi kuda!” Maho menerangkan.
”Maho kau keren sekali” Ki Tuhu sempat terkagum sebelum akhirnya ia sadar ”Apa yang kau lakukan Ho! Tindakanmu sungguh keterlaluan!”
Ki Tuhu kemudian membujuk Maho agar mau mencabut kutukannya namun Maho tetap pada pendiriannya sehingga Ki Tuhu pada akhirnya mengusir Maho dari tanah cikal bakal negara Indonesia ini. Sebelum Maho pergi ia berpesan pada Liyus untuk bertobat memohon ampunan kepada dewata. Hanya dengan itulah dia dapat kembali seperti semula.

Satu millenium kemudian, setelah Liyus menjalan hidup 1000 tahun sebagai kuda, berganti-ganti majikan dan berganti-ganti pekerjaan: sebagai kuda balap, sebagai penarik delman sampai pernah ia menjadi kuda lumping. Semua ia lakoni dengan niatan ingin bertobat dan atas kesungguhannya itu para dewata mengembalikan ia ke bentuk semula, namun dikarenakan sudah sangat lama, para dewata lupa dengan bentuk asli Liyus sehingga Liyus menjadi manusia dengan rupa yang tidak terlalu mirip dengan awalnya.

Liyus tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan setahun kemudian ia menikah dengan gadis pujaannya.





Lalu apa yang terjadi dengan Tugu Monas? Monas tetap bertahan hingga sekarang dan menjadi simbol ibukota negara.



TELOR

Jumat, Maret 26, 2010

Pada suatu siang di bulan Maret 2010, gua makan bersama teman gua Liyus dan Anton di sebuah warteg di kota Serang, Jawa Barat. Anton terlalu khusyuk makannya sehingga tidak terlibat dalam pembicaraan berikut. Ia hanya mendengarkan sambil sesekali terlihat ngeces.

Liyus: telor asin tuh Ho!

Gua: Iya moga-moga enak nih...

Liyus: Yg terkenal enak mah di Brebes Ho!

Gua: Emang itu oleh-oleh khas sana Yus...

Liyus: Ada cerita nih Ho.. Ada supir truk maen sama PSK. Setelah maen, PSK-nya nanya "Mas orang Brebes ya???"... "Kok bisa tau dek???" kata supir truk. "Ya tau dong, soalnya TELOR-nya ASIN!!!"

Gua: Hehehe... Gua juga ada cerita nih Yus... Ada supir truk maen sama PSK. Setelah maen, PSK-nya nanya "Mas orang Betawi ya???"... "Kok bisa tau dek???" kata supir truk. "Ya tau dong, soalnya TELOR-nya BERKERAK!!!"

Parental Advisory - Explicit Content part.3

******* (dalam lakon "Suka-Duka Praktikum") *******

Senin, Agustus 03, 2009

Awal 2003, termasuk tahun pertama gua kuliah di kampus tercinta, jurusan Teknik Elektro di sebuah universitas negeri di pulau Jawa. Kebanyakan mahasiswa kampus ini pasti setuju kalau masa-masa awal perkuliahan merupakan masa-masa terberat. Di dua semester itu, kami mesti menerima fakta bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka. Bagaimana bisa dibilang merdeka, wong hampir tiap hari di sepanjang tahun, kami ditekan dan ditindas oleh para penjajah yang masih berasal dari bangsa sendiri, masih berasal dari rumpun yang sama, yang tidak lain adalah para senior di kampus tersayang ini.

Setiap selesai perkuliahan, ketua angkatan yang biasa disebut Komting selalu berkata “Angkatan 2002 jangan pulang dulu… Senior mau masuk!!!” Bahkan saking seringnya sampai-sampai terkadang sebelum si komting bicara, sudah ada yang mendahului ngomongin hal tersebut.

Tidak lama setelah itu terdengar suara dari arah luar. Brakkk!!! Pintu terbuka seperti didobrak. Masuklah beberapa pemuda dekil yang sudah pasang muka galak terlebih dahulu “Selamat siang adek-adek…” berkatalah seseorang diantara mereka memulai pembicaraan. Tampaknya ia adalah seorang yang telah ditunjuk untuk menjadi juru bicara. “Bla… Bla… Bla… %$&*&^&$*$*%%*%@**!!!... Bla… Bla… Bla… #&$&$*%*%#@*!!! Fyuh.., panjang banget deh omongan orang itu. Intinya kita dikasih tugas tambahan. Macem-macem bentuknya. Misalnya translate buku atau bersihin kampus. Pokoknya orang-orang itu kayaknya gak rela kalo kami bisa bernafas lega dan seneng ngeliat kami menderita. Bener-bener dah!

Sebenarnya bisa saja kami menolak dan memboikot tugas-tugas tersebut. Namun apa daya, kami hanyalah ‘anak baru’ dan mereka terlalu ‘mengusai’ kampus bahkan sampai “menyentuh” perkulian. Salah satu yang dikuasai adalah praktikum.

Praktikum adalah praktek dari sebuah mata kuliah. Tidak semua memang, namun cukup banyak mata kuliah yang dipraktekkan. Nilai dari praktikum tetap wewenang dosen, namun pada pelaksanaannya dilakukan oleh mahasiswa sebagai asisten, dan disinilah para senior bermain. Seringkali praktikum dijadikan alat oleh senior untuk mengancam juniornya. Praktikum memang hanya 1 sks, tapi malah sering mengalahkan 20 sks lainnya. Para mahasiswa biasanya rela melakukan apa saja agar dapat lulus praktikum walaupun terdapat ‘syarat-syarat’ yang diluar batas kewajaran. Bahkan saking takutnya akan ‘ancaman tidak lulus’ dari para seniornya itu, mereka terkadang mengorbankan mata kuliah lainnya yang notabene mempunyai jumlah sks lebih banyak. Anggapan mereka adalah bahwa para dosen pasti lebih ‘manusiawi’ ketimbang senior-senior mereka.

----- @@@@@ -----

Pagi itu, gua terduduk kaku di lantai kamar kost. Udah dua hari ini gua begadang demi menyelesaikan laporan praktikum. Fyuh, akhirnya kelar juga. Walaupun mengorbankan jari-jari gua yang kaku, sampe-sampe pulpen seolah-olah udah menjadi satu kesatuan sama jari gua, saking lamanya nempel di tangan. Sekedar pemberitahuan aja, kalo laporan praktikum ditulis tangan dengan warna tinta berbeda tiap tahunnya dengan tebal laporan bisa mencapai 500 lembar untuk 1 mata praktikum.

Waktu menunjukkan pukul 6.15. “Saatnya asistensi nih…” gua memasukkan laporan gua ke dalam tas dan bergegas keluar kamar. Gua memang harus menyerahkan laporan itu pagi-pagi buta, sebelum mas asisten keluar dari kos-nya.

Gua percepat langkah kaki gua menuju kos asisten. Gak peduli kuburan, tanah becek, jalan gang, jalan raya,… semua gua lewati. Hanya berharap mendapatkan sebuah tanda tangan dan tulisan kecil “acc”.

Singkat cerita, setelah melalui berbagai medan, atlet jalan cepat itu (yaitu gua sendiri) sampai di rumah yang dituju. Setelah gua mengetok dan mengucapkan salam, seorang ibu paruh baya (kita anggap saja “Mawar”), memakai kutang warna putih dan hot pant merah muda, membukakan pintu.

Gua : “Glek” (nelen aer ludah)
Mawar : “Nyari siapa dek?”
Gua : “Mmm…Mas… Mas XXX ada Bu?”
Mawar : “Sebentar ya…”

Ibu “Mawar” kemudian masuk ke dalam dan tidak lama kemudian keluar lagi. Sial!!! Padahal gua berharap dia agak lamaan di dalem, trus dari luar gua mendengar suara “Ah… Oh… Yes!!! Once more baby… you bad boy…”, supaya tulisan gua ini bisa lebih panjang lagi.

Mawar : “Mas XXX-nya gak ada tuh dek…”
Gua : “Ssllrruupp…. Kalo boleh tau dia kemana ya Bu???” (masih mikir yang jorok-jorok)
Mawar : “Gak tau ya… Tadi saya ketok gak ada suara dari dalam. Yang ada cuma suara desahan…”
Gua : “Desahan???” (terlihat antusias)
Mawar : “Gak deng, cuma bercanda… Gitu aja kok dibawa serius… Hehehe…” (terlihat seneng ngerjain anak kecil)
Gua : “Kirain…”
Mawar : “Apa kamu mau ngecek sendiri ke dalam?”
Gua : “Ngg… ngg.. nggak kok Bu. Gak usah. Saya udah percaya…”

Gua buru-buru pergi dari situ. Daripada terjadi hal-hal yang memang ‘diinginkan’. “Tidak deh… Makasih… Gua cukup setia kok dengan Azumi.” (pada masa itu sedang booming-booming-nya Azumi Kawashima)
Di satu sisi gua seneng pagi-pagi udah diperlihatkan pemandangan yang jarang-jarang gua temuin (hehehe… bikin mata yang udah 5 watt lampu kuning, berubah jadi 36 watt lampu neon), tapi di sisi lain gua gondok mendapati bahwa pengorbanan gua begadang dua hari (yang sampai menyebabkan sekujur tubuh menjadi kaku) menjadi sia-sia belaka! “Apa jangan-jangan ada konspirasi atau unsur kesengajaan disini???.” Pikiran gua mulai su’udzon.

Seperti kata banyak orang ada istilah ‘naik darah, turun ke bawah’ yang artinya kalo emosi bikin perut jadi mules. “Waduh!!! Ribet deh urusan. Mana kos gua jauh lagi!”

Gua yang pikirannya udah gak karuan (antara memikirkan nasib laporan, memikirkan perut yang mules dan memikirkan ibu-ibu tadi) mulai kehabisan akal. Sepanjang jalan gua berlari sekencang-kencangnya. Tut… Tut… Tut… Dari jalur 1 kereta senja utama memasuki stasiun Jatinegara…

“Hosh,.. hosh… hosh,…” gua mulai kehabisan napas. “Tenaga gua abis nih. Belom makan sih…”

Kebetulan gak jauh dari tempat gua berdiri ada tukang burjo (bubur kacang ijo). “Lumayan deh, buat ngisi bensin…” Gua masuk ke dalam kiosnya dan memesan mie rebus telor.

Gak pake lama pesenan gua jadi. “Mmmm,.. yummy… mantaaap….” Gua langsung menyantap mie yang disajikan. Saking lahapnya mie langsung tinggal separuh. Namun tiba-tiba dari arah selatan terdengar bunyi. Prettt… Preett… Creett… Creett… “Eh busyet, gua lupa! Tadi gua kan lari-lari gara-gara perut mules. Sekarang kecapekan malah gua makan…. Bukannya makin ‘ke-dorong’???”

“Jadi berapa bang???” gua langsung berdiri dan membayarkan sejumlah uang sesuai nominal yang disebut abang tukang burjo. Keluar dari tempat burjo, gua langsung lari. Ngibrit sekenceng-kencengnya.

Tukang Burjo : “Oalah… Semangat banget anak itu yak? Mungkin atlet lari kalee… Kayak sapa kiye? Liem Swie King… Betul kayak Liem Swie King!
Pembeli Burjo : “Liem Swie King mah bukan atlet lari atuh bang… Dia mah pemaen drumband!

----- @@@@@ -----

Di lain tempat, gua sudah hampir separuh jalan menuju kost. Tepatnya dekat kost Yunan. “Nan… Nan… Nan… Spadaaaa… Sialan si Yunan belom bangun lagi! Langsung aja dah menuju kamar mandinya” gua ngacir kearah kamar mandi umum yang letaknya gak jauh dari kamar Yunan.

“Astaga… Ada orang yang make… Maap mas, saya nggak tau…” gua mulai hopeless dan tanpa pikir panjang kembali berlari. Kalo diliat-liat, gua yang berlari-lari cocok juga divideo-in buat soundtrack lagu “Stasiun Balapan”.

“Fyuh, akhirnya kuburan! Jalan potong paling deket menuju kost gua.” Harapan kembali terbuka. The promised land…. Here I come….

But wait… Gila nih! Alarm weker di perut gua makin menggila. Kalo gua ke kost sempet sih… tapi waktu gua naek keatas lewat tangga apa gak bahaya tuh? Gimana kalo tiba-tiba jatuh. ‘Plung’… Trus ada yang ada ngeliat. Muka gua mau ditaruh dimana? Masak iya gua bilang “Aduh pake jatuh lagi pisang gorengnya. Gapapa deh belom 5 menit! Nyam… Nyam…” langsung gua caplok daripada malu. Gak mungkin kan??? Sementara kalo gua di WC bawah juga gak mungkin. Anak-anak kost bawah kan pada nge-geek semua. Prinsip mereka 4K (Kos, Kampus, Kantin, Kakus). Pasti pagi ini mereka lagi berebutan kamar mandi biar bisa duluan sampe di kampus. Biar dapet bangku paling depan. Jadi, kalo gua berharap jam segini ada kamar mandi kosong sama aja dengan gua berharap Azumi maen sinetron di Indonesia… Mustahil!!!

Satu-satunya cara gua mesti cari tempat yang tidak strategis di deket pekuburan ini. “Dimana ya??? Aha!!!” gua menemukan spot yang bagus di pojokan sana.

Gak pake lama gua langsung semedi di tempat tersebut. Sebenernya sih agak serem juga tapi mau gimana lagi? (Telor udah di ujung tanduk nih… Telor ceplok pula!) Bodo amat dah! Walaupun pikiran gua udah bayangin macem-macem… Seandainya tiba-tiba ada tangan muncul dari dalam tanah. Kemudian tangan itu mulai meraba kaki-kaki gua yang mulus, dan menjelajahinya sampai pangkal paha.

Gua : “Woi mau ngapain lo!!!”
Tangan setan : “Ka…Kaga bang, ane cuma mau bantuin nyebokin doang”
Gua : “Ooooh…. Ya udah terusin deh…”

“Owek… Owek…” terdengar tangisan. “Loh kok bayi?” gua melihat kebawah. “Oooh, suara anak tetangga… Syukurlah… Gua kirain…” Yes! Akhirnya bisa keluar juga… Merdekaaaa!!!!! “Fyuh,… Legaaaa…” batin gua.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara langkah manusia…. Ternyata adalah seorang perempuan berkacamata. Kelihatannya ia hendak menuju kampus. Terlihat dari tangannya yang menenteng sebuah buku. “Waduh, tengsin nih kalo gua ampe ketauan!”

Gua beranjak dari situ. Kebetulan gak jauh dari situ ada nisan yang udah rada kotor ketutupan daun-daun kering. Mulailah gua beraksi. Membersihkan dedaunan seolah-olah orang yang lagi ‘nyekar’. Mbak-nya pun lewat dan nampaknya ia memang tidak curiga sedikit pun atau mungkin saja yang ada di otaknya cuma Kalkulus dan angka-angka doang. Whatever, yang penting mission accomplished! Tinggal tersisa satu PR. Apa yang harus gua lakukan dengan ‘pisang penyet’ ini??? Gak mungkin kan seorang profesional meninggalkan barang bukti semudah itu?

Maka melayanglah ingatan gua… Terus melayang sampai di zaman ketika manusia pertama kali menginjakkan kaki di bumi… Ketika Qabil membunuh saudaranya sendiri yaitu Habil… Ketika ia kemudian melihat burung gagak yang melakukan hal yang sama… Ketika burung gagak yang hidup menguburkan burung gagak yang mati… “That’s it!!! Gua akan mengikuti langkah Qabil yaitu meniru apa yang dicontohkan burung gagak. Dengan begini berarti mission is really accomplished!!!

----- @@@@@ -----


Notes:
Apa yang gua tulis disini cuma bersifat menghibur (walaupun ini kisah nyata lho!!!). Yang terpenting adalah hikmah yang terkandung di dalamnya. Gua berharap tindakan senioritas yang kelewat batas sudah tidak ada lagi dan syukurlah pada beberapa tahun belakangan hal tersebut makin jauh berkurang. Sistem perkuliahan pun semakin baik. Dan semoga akan terus berlanjut di tahun-tahun ke depannya. Amin.

CR7

Jumat, Juni 12, 2009

Andaikan jadi hari ini Cristiano Ronaldo memutuskan untuk pindah ke Real Madrid dengan transfer sebesar 80 juta pound, pasti banyak fans Manchester United yang kecewa dengan kepergiannya. Tapi kenapa gua kok merasa biasa-biasa aja yak? Padahal dari awal kedatangannya, bisa dibilang gua salah satu fans beratnya.

Awal kepindahannya dari Sporting Lisbon, gua masih inget ketika itu gua sampe ngirim surat pembaca ke tabloid BOLA yang isinya kira-kira “Siapa sih Cristiano Ronaldo? Kok bisa-bisanya pake kostum sakral MU nomer 7. harganya mahal pula: 12,5 juta pound.” Surat itu dijawab oleh BOLA dan masuk rubrik surat pembacanya walaupun bukan kolom utama. (Gua lupa apa nama rubriknya karena gua udah gak berlangganan lagi semenjak Liga Inggris gak ditayangin lagi di TV-gratisan Indonesia)

Gua yang penasaran terus mengikuti perkembangan pemain yang belakangan kerap dipanggil CR7 ini. Kok bisa-bisanya magnificent 7 United, yang biasa dipakai David Beckham, Eric Cantona, George Best dan Bryan Robson diserahkan sama anak ingusan yang ketika itu masih memakai jersey kegombrongan.

Hari demi hari, bulan demi bulan hingga saat ini CR7 genap 7 (kurang 1) tahun berada di skuad Setan Merah, gua makin terpesona melihat kemampuannya memainkan si kulit bundar (tapi tidak berbulu). Tidak terhitung (dengan jari tangan dan kaki) sudah berapa banyak download-an video aksi-aksi orang purtugis ini memenuhi harddisk gua (selain video Maria Ozawa). Fantastis! Jelas sekali manajer MU, Sir Alex ferguson sangat jeli dalam menilai potensial pemain muda. Tidak salah kalau ia memberikan kostum nomer 7. Benar-benar magnificent 7!!! Pokoknya dalam 7 (kurang 1) tahun ini Ronaldo bener-bener merasuki jiwa gua. Dari mulai video, poster, tampang (kalo yang ini emang dasarnya dari lahir muka gua udah latino gitu deh), gaya bermain sepakbola sampe-sampe ketika maen PES gua juga cuma ngandelin Ronaldo (padahal maen bola kan harusnya 11 orang ya???).

Pertengahan 2008, Ronaldo mengantar MU meraih double winner, menjuarai Liga Champions plus Liga Inggris. Tidak hanya itu, ia juga menjadi pencetak gol terbanyak Liga Inggris dan torehan 40 golnya di seluruh kompetisi juga menjadikannya pemain tersubur di Eropa. Puncaknya ia meraih gelar pemain terbaik dunia.

Pada saat masa jayanya itu gua sempat khawatir kalau-kalau Ronaldo terbuai dan menjadi besar kepala seperti Fir’aun di Mesir dan Julius Caesar di Roma. Apalagi ketika itu tawaran datang bertubi-tubi dari Madrid. Gua juga takut kalau Ronaldo bakal tergiur dan mendesak Sir Alex untuk pindah klub dengan alasan prestasinya yang segudang membuat ia memerlukan tantangan baru. Untungnya pada kompetisi Piala Eropa, ia gagal membawa Portugal meraih gelar juara. Sehingga tidak ada statement “Inilah gua! Apapun yang gua sentuh jadi emas. Siapapun yang gua bawa jadi juara!”

Tahun ini Ronaldo gagal membawa MU meraih gelar, dan yang mengejutkan gua adalah pernyataannya ke publik bahwa Sir Alex adalah penyebab kegagalan MU di final. Gila! Kurang ajar banget ini anak. Padahal kan Sir Alex bisa dikatakan ayah keduanya. Siapa yang membela dia waktu bertikai dengan van Nistelrooy? Siapa yang mendukungnya ketika ia dicemooh publik sepakbola Inggris ketika kasus pertikaiannya dengan Wayne Rooney di Euro 2008? Siapa yang nganterin dia sekolah di SD inpres? Gua rasa hal inilah yang membuat gua tidak menyayangkan kepergian Ronaldo ke Madrid. Gua juga gak menyalahkan Sir Alex bertindak seperti itu, sama halnya ketika gua setuju Malin Kundang dikutuk emaknya menjadi batu.

Kesombongan Ronaldo emang udah gak bisa ditolerir. Kalau gua jadi manajer MU pastilah udah panas kuping gua. Lagipula, uang 80 juta pound itu sangat besar dan bisa dipakai buat beli 2 atau 3 pemain baru kaliber dunia. Malah sisanya masih cukup buat bayar zakat fitrah. Gua rasa gak cuma gua yang merasa begitu. Temen gua (anak buah gua), Adhi Laksono, juga udah merelakan kepergian CR7. Ia berujar “Gak papa, udah mulai sombong soalnya si CR7. Siapa tau MU dapet pemain yang lebih sholeh, alim, rajin sholat n gemar menabung.... :D”

Well, buat Ronaldo, have fun in Madrid. U’re still in my heart, but Manchester United always on top!!! (gay banget gak sih kedengarannya???)

Ye' Mmm.....

Minggu, Maret 15, 2009

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

From Starterpack to Sixpack

Minggu, Februari 08, 2009

Cerita kali ini gua persembahkan buat temen-temen gua yang merasa dirinya kelebihan berat badan dan ingin menguranginya. Terutama buat mas Adhi Laksono yang lagi giat-giatnya diet menjelang hari pernikahannya yang tinggal hitungan bulan. Semoga kisah gua ini bisa menjadi inspirasi.

----- @@@ -----

Hari itu memasuki akhir bulan Februari 2007. Masa perkuliahan gua udah memasuki semester 10. Seperti biasa, sedari pagi gua udah nongkrong di depan komputer. Bukan belajar atau ngerjain tugas akhir, tetapi sekedar main game atau apalah, yang penting bisa menjadi pelarian dari tekanan untuk segera lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Memang, beberapa teman seangkatan gua udah lebih dahulu lulus dan diwisuda pada Januari tahun itu. Contohnya, sahabat karib sekaligua mentor gua yaitu Abang Yunan. Kelulusannya memang sangat mengejutkan banyak orang. Tidak ada yang menyangka ia bakalan lulus secepat ini. Prediksi setiap orang meleset, bahkan banyak bandar taruhan mengaku bangkrut setelah kelulusannya. Tapi apapun itu, kerja kerasnya memang patut diacungi jempol. Lagipula keliatannya usia si Yunan juga memang sudah memasuki separuh baya. Kasian juga kalo ampe kelamaan.



Ketika lagi buka-buka dokumen foto wisuda Yunan, gua jadi inget kalo gua udah lama gak upload foto di Friendster. ”Upload yang mana yah??? Poto ospek 2004, poto KKL, poto KKN, poto Pamela atau.... Wah ini mah jadul semua! Mmm..... Oh iya! Poto waktu di Ungaran aja.” Kebetulan pada akhir 2006, gua ke Gunung Ungaran dalam rangka Pendidikan Dasar Philar XV. Karena udah senior, biasalah kerjaannya poto-poto doang.

Gua telurusi folder ’Pendas Philar 2006’. Akhirnya gua temuin poto yang rada keren. Di foto itu gua lagi tolak pinggang (khas para pejuang yang berpose di buku sejarah), memakai celana tentara ¾, berlatar belakang goa yang diatasnya mengalir air terjun. Elok nian poto ini. Sayang seribu sayang, di foto ini gua lagi telanjang dada....

Sebenarnya soal ketelanjangan itu bukan masalah buat gua. Yang jadi persoalan sekarang adalah gua baru menyadari bahwa timbunan lemak di perut gua udah berubah dari tas pinggang menjadi tas punggung (cuma ini ditaruh di depan). Gila aja, gua keliatan seperti orang mau melahirkan. Kurang sedikit lagi gua pasti bisa mendaftar sekolah sumo.

Memang sih, belakangan ini gua rada males beraktifitas. Ini semua gara-gara patah tulang tangan kiri pada Agustus 2006 (baca juga cerita Parental Advisory – Explisit Content) yang membuat pergerakan gua, yang biasanya pecicilan, agak terhambat. Otomatis hari-hari gua lebih didominasi santai-santai nonton TV atau pelem semi diatas tempat tidur, yang tanpa gua sadari membuat berat badan gua terus meningkat.

Pikiran gua mulai berkecamuk. Gua mulai mikir yang kaga-kaga. Jangan sampe deh gua jadi pesumo. Kalo itu ampe jadi nyata, berarti gua mesti pergi ke Jepang dong? Terus sampe disana gua ketemu produser S1 (S One), lalu diajak ke studionya untuk maen pilem bareng Miyabi.....

Miyabi : “Maho-san, mana nih? Ayo dong, I’m ready.....”
Maho : “Euuhh… Euuhh… Duh maaf dek Miyabi. ‘Itu’-nya keganjel perut!”
Miyabi : “……………” (Bengong sambil ngipas-ngipas)
Maho : ”Hehehe... Maaf yak semuanya...” (Cengar-cengir salah tingkah)
Sutradara : ”CUTTTT!!!!!!!!”

Waduh! Bahaya nih! Gak bisa dibiarin. Gua mesti melakukan sesuatu sebelum ini bertambah parah. Tanpa pikir panjang, gua langsung cabut menuju apotek.

Sesampainya di apotek, gua langsung membeli 1 strip obat sakit kepala yang paling murah terus langsung menuju sudut ruangan dimana timbangan berada. Hehe... Tujuan utama gua ke apotek emang nimbang badan, bukan nyari obat! Tapi daripada tengsin, mending keluar duit dikit buat sekedar basa-basi.

”Gila!!! 72kg cuy!” Gua langsung ngecek timbangannya. Apa jangan-jangan jarumnya udah dua kali muter. ”Fyuuh... Syukurlah.” Alhamdulillah ternyata baru sekali. Namun tetap saja 72kg bukanlah berat ideal bagi gua yang hanya bertinggi 168cm. Dalam hati gua berkobar-kobar niatan untuk diet ketat.

----- @@@ -----

Beruntungnya, gua adalah seorang yang egois dan berpendirian keras. Apapun yang menjadi kemauan gua harus terlaksana. Tak peduli apapun resikonya. Pokoknya selama hayat masih dikandung badan, gua akan melaksanankan sebisa mungkin apa yang sudah gua niatkan, walaupun harus bersimbah peluh atau darah sekalipun. (Lebay mode: ON)

Hari-hari berikutnya berlalu dengan tiada satu detik pun terlewatkan tanpa beraktifitas. Tidak ada bengong, males-malesan ataupun tidur-tiduran. Dalam setiap minggunya, dua kali gua berenang (hari selasa dan kamis), satu kali lari pagi 4km (hari minggu), tiga kali angkat berat (senin, rabu dan jum’at), empat kali senam (hari senin, rabu, jumat dan minggu) dan satu kali futsal (hari sabtu). Kebetulan kuliah gua juga udah selesai, tinggal beberapa mata kuliah saja yang mesti diperbaiki. So, mudah saja untuk mengatur jadwalnya.

Selain berolahraga, gua juga mengatur pola makan. Gua menghindari makanan-makanan yang tinggi kadar lemaknya seperti gorengan atau jeroan. Gua juga mengurangi konsumsi gula. Pokoknya gua bener-bener mengontrol apa yang masuk ke perut gua sampe-sampe gua rajin membaca artikel kesehatan, terutama yang berhubungan dengan kalori pada setiap makanan. Jujur, hal ini berat banget! Apalagi gua anak kost yang makanannya didominasi makanan warung. Susah nyari makanan rendah lemak. Apalagi kalo malem. Lo tau sendiri malem hari yang jual makanan didominasi warung tenda pecel lele atau ayam goreng yang menggorengnya aja menggunakan minyak yang warnanya udah item butek gak karuan. Terkadang, demi diet gua terpaksa membeli makanan mentah di supermarket untuk kemudian memasaknya di dapur kost. Lumayan lah, itung-itung skill koki gua bertambah.

Sebulan kemudian, hasilnya sudah mulai kelihatan. Bobot gua berkurang 7kg! Gak sia-sia pengorbanan gua. Bahkan hingga beberapa bulan kemudian berat gua terus turun sampai titik terendahnya yaitu 56kg! Perut yang tadinya bulat pun berubah jadi kotak-kotak. Yang tadinya starter pack menjadi six pack!

Gimana cuy? Pokoknya buat lo yang udah overweight, silakan deh dicoba. Yang terpenting adalah niat dan konsistensi. Where there’s a will, there’s a way. Sebagai motivasi, lo mesti mengatur mindset bahwa hal ini baik untuk kesehatan dan untuk jangka panjang. Soalnya pengalaman gua selama berolahraga, terutama lari pagi dan berenang, gua banyak menjumpai orang-orang lanjut usia. Kenapa mereka baru memulai ketika hari tuanya, sebagai terapi dari penyakit yang mereka derita?


Berikut ini beberapa tambahan tips-tips buat lo yang ingin menjalani program diet.

1. Diet itu mengatur pola makan, bukan menahan diri untuk tidak makan.
Terkadang orang-orang sering salah kaprah. Mereka menganggap untuk menurunkan bobot tubuhnya, mereka harus menahan keinginan untuk makan. Kalo kita lakukan ini, yang ada bukan tambah sehat malah jadi sakit. Justru kebalikannya, dalam diet yang baik kita harus lebih sering makan, namun tentunya dengan mengontrol porsi atau dengan kata lain dengan porsi lebih sedikit. Frekuensi makan yang sering akan mengakibatkan kestabilan gula darah yang mengakibatkan pengendalian nafsu makan jadi lebih baik dan mengurangi produksi insulin dalam tubuh. Sebagai pengetahuan, insulin adalah hormon dalam tubuh yang menginstruksikan tubuh untuk menyimpan cadangan energi dengan membentuk sel-sel lemak baru.

2. Hindari mengkonsumsi makanan berlemak dan kurangi konsumsi gula.
Inilah hal terberat buat gua. Kebiasaan gua mengkonsumsi gorengan, snack, coklat, es krim, tongseng, paru dan belut goreng mesti gua tinggalkan. Untungnya pete dan jengkol gak termasuk makanan tinggi lemak. Jadinya masih ada makanan favorit yang bisa masuk perut. Pokoknya gua mesti makan makanan dengan kadar lemak rendah. Untuk mensiasati kebosanan ini, gua mengatur bahwa pada hari sabtu dan minggu pantangan ini boleh dilanggar, namun tetap tidak berlebihan. Selain itu, konsumsi gula juga perlu diatur. Secara tidak sadar, konsumsi gula yang berlebihan berpengaruh juga terhadap kenaikan berat badan kita. Untuk mengakalinya, gua menggunakan gula jagung dan madu sebagai pengganti gula pasir.

3. Penuhi kebutuhan protein dan imbangi dengan minum banyak air putih.
Protein adalah katalis terbentuknya hormon-hormon penting dalam tubuh seperti hormon pertumbuhan dan testosteron. Kedua jenis hormon ini meregulasi tingkat laju pertumbuhan otot, pembakaran lemak serta laju penuaan seseorang. Ketika mengkonsumsi protein, kerja ginjal lebih berat jika dibandingkan saat mengkonsumsi karbohidrat. Oleh karena itu, imbangi dengan minum air putih minimal 3 liter per hari. Kalo gak ada air, pertamax juga boleh. Monggo wae.

4. Jangan lupa untuk sarapan pagi dan hindari ngemil di malam hari.
Sarapan pagi adalah konsumsi yang terpenting. Sarapan membantu proses metabolisme dan bermanfaat menyediakan energi untuk memulai aktifitas sehari-hari. Sebaliknya, kebiasaan ngemil di malam hari akan membantu proses penimbunan lemak dalam tubuh. Memang, pada saat tidur kita juga membutuhkan kalori. Namun tidaklah sebanyak konsumsi ketika kita bergerak. Oleh karena itu usahakan untuk makan lebih banyak saat sarapan pagi dibandingkan pada saat makan malam. Dan jangan buru-buru tidur sehabis makan. Tunggulah sejenak barang 1 atau 2 hari... eh, maksudnya 1 atau 2 jam.

5. Perbanyak makan serat.
Jangan salah ya, serat yang dimaksud didapat dari sayuran dan buah-buahan. Jadi, bukan dari keset, karpet, kain apalagi tali rafia. Serat bukan hanya bagus untuk menurunkan berat badan dan bikin perut terus kenyang. Serat juga mencegah konstipasi yang menyebabkan perut jadi buncit.

6. No smoke, no alcohol!
Seringkali orang menyangka bahwa merokok akan menjadikan mereka kurus. Anggapan ini tidaklah benar. Sesungguhnya para perokok memiliki lemak perut lebih banyak dibandingkan dengan bukan perokok. Jika ada contoh perokok yang kurus, bisa terjadi karena dua hal. Yang pertama lebih disebabkan karena mereka terlalu asyik menghisap sehingga lupa mengunyah, dengan kali lain mereka jadi lupa makan dan yang kedua adalah karena mereka dasarnya sudah ceking alias kerempeng. Faktanya, rokok dan juga alkohol cenderung meningkatkan kadar hormon kortisol, sehingga mengirim lemak ke perut.

7. Berolahraga secara teratur.
Berolahragalah sesuai kemampuan. Gak usah dipaksakan. Yang terpenting adalah adanya konsistensi. Berolahraga secara berlebihan justru malah akan membuat tubuh kita menjadi sakit. Buat lo yang sibuk, olahraga itu gak mesti lari pagi, senam ataupun berenang. Setiap kegiatan yang membakar kalori (aerobik) juga olahraga. Misalnya: daripada naik motor, kita mengutamakan berjalan kaki jika mau ke warung atau kita lebih prefer naik tangga dibandingkan menggunakan lift atau juga buat kita yang bekerja di gedung bertingkat, boleh juga kita melakukan yamakashi dengan memanjat tembok gedung tersebut dari samping untuk sampai ke ruangan kantor kita. Selain itu, gua pribadi rutin melakukan sit-up/crunch setiap harinya minimal 4 set, dimana setiap set-nya 12 kali repetisi. Biasanya gua melakukan ini setiap bangun tidur. Hal ini berfungsi untuk menonjolkan six pack. Pada dasarnya setiap orang memiliki six pack, namun kotak-kotak perut ini penampilannya terhalang oleh lapisan lemak dan air yang berada diantara otot dan kulit. Namun, bukan berarti sit-up dan crunch akan membuang lapisan lemak tersebut. Untuk membuang lapisan tersebut, kita tetap harus melakukan kegiatan yang membakar kalori (aerobik).